Langsung ke konten utama

Peneliti China mencari asal-usul orang Austronesia

FUZHOU - Sebuah pusat penelitian telah didirikan untuk menentukan apakah orang Austronesia berasal dari daratan Cina.

Pusat Penelitian Internasional untuk Arkeologi Austronesia di Pingtan, provinsi Fujian, dipimpin oleh institut arkeologi Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, dan Museum Fujian.

Keluarga bahasa Austronesia termasuk yang diucapkan oleh ratusan juta orang di Asia Tenggara maritim, Selandia Baru, kepulauan Pasifik, Madagaskar, dll.

Penelitian sebelumnya mendukung klaim bahwa bahasa Austronesia berakar di Taiwan. Tetapi sebuah pandangan baru baru-baru ini muncul di kalangan akademis, menunjukkan bahwa Taiwan mungkin adalah stasiun tengah dan asal-usul bahasa berada di daratan Cina.

Pusat penelitian itu berada di dekat situs Neolitikum - reruntuhan Keqiutou - tempat para arkeolog menemukan banyak alat batu termasuk kapak tangan yang belum sempurna. Artefaknya mirip dengan artefak yang ditemukan di reruntuhan Dachakeng Taiwan, yang diyakini sebagai rumah nenek moyang bangsa Austronesia.

"Ini adalah bukti penting yang mengkonfirmasi hubungan dekat antara Fujian dan Taiwan di Zaman Batu Baru," kata Zhao Zhijun, seorang peneliti dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok.

Fan Xuechun dari Museum Fujian, mengatakan penemuan itu menunjukkan bahwa orang-orang kuno mungkin telah melintasi Selat Taiwan sekitar 7.000 tahun yang lalu dan daratan Cina memang tanah air asli orang Austronesia.

Para peneliti mengatakan mereka akan mengumpulkan dan
memulihkan temuan Keqiutou terlebih dahulu dan menampilkannya di pusat. Ini kemudian akan berfungsi sebagai dasar untuk studi arkeologi Austronesia.

referensi :translate from http://www.chinadaily.com.cn/china/2017-11/09/content_34306252.htm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Sembilan Bulan 九陰 真經 Dan Kitab Sembilan Matahari 九陽真經

Pada tahun 90an, layar kaca kita dihiasi oleh banyak film-film kungfu menarik. Di dalam setiap film kungfu tersebut tentu ada banyak jurus-jurus kungfu yang tak kalah menariknya. Postingan kali ini akan membahas makna mendalam dua buah kitab yang terdapat pada film Trilogi Pemanah Rajawali. Inilah dua kitab tersebut yang merepresentasikan Ying dan Yang. Kitab Sembilan Bulan 九陰 真經 JIU YIN ZHEN JING Kitab Sembilan Bulan yang diperebutkan oleh 5 jagoan kungfu di Serial Pendekar Pemanah Rajawali. Pengemis Utara, Raja Selatan, Racun Barat, Sesat Timur dan Dewa Tengah bertarung di Gunung Hua San untuk memperebutkan kitab tersebut.  Konon orang yang berhasil menguasai ilmu dari kitab ini bisa menguasai dunia persilatan. Kitab Sembilan Matahari 九陽真經 JIU YANG ZHEN JING Ilmu dari Kitab Sembilan Matahari berlawanan dengan ilmu dari kitab sembilan bulan. Bila ilmu sembilan bulan bersifat Yin maka ilmu sembilan matahari bersifat Yang. Ilmu inilah yang menyelamatkan nyawa Tio Bu Ki setelah dirin...

Prasasti Yupa / Mulawarman dari Kutai

Prasasti Yupa atau Prasasti Mulawarman, atau disebut juga Prasasti Kutai, adalah sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai. Terdapat tujuh buah yupa/Tugu (sementara yang ditemukan) yang memuat prasasti, namun baru 4 yang berhasil dibaca dan diterjemahkan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa (Pa-Lao-Wa /Lao-Lang) dan dalam bahasa campuran sansekerta dan Yi (Hok-Lo / Ge-Lao) Kuno, yang diperkirakan dari bentuk dan jenisnya berasal dari sekitar 200 Masehi sesuai catatan kanung retawu terawal yg berkisar abad ke-2/3 M, meskipun sebagain sejarahwan menduga sekitar pd tahun 400 M. Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub.[1] Isi prasasti yupa/mulawarman menceritakan Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Mulawarman disebutkan sebagai cucu dari Kudungga, dan anak dari Aswawarman. Prasasti ini merupakan bukti peninggalan tertua dari kerajaan yang beragama Dharma (Hindu?) di Indonesia. Nama Kutai umumnya digu...

Sriwijaya di Mata Biksu Pengembara dari China

Catatan tertua tentang Sriwijaya dibuat oleh I-Tsing (Yi Jing, I Ching). Ia seorang biksu yang mengembara dari Cina ke India untuk mempelajari agama Buddha. I-Tsing menumpang kapal dagang pada jalur perdagangan laut pada abad ketujuh. Ia dua kali singgah di Sriwijaya yang disebutnya dengan nama Shih-li-fo-shih (kerajaannya) dan Fo-shih (kotanya). Dalam perjalanan ke India, I-Tsing singgah di Sriwijaya selama enam bulan, antara tahun 671-672. Sepulangnya dari India, ia menetap di Sriwijaya selama bertahun-tahun: pada 685-689 kemudian dilanjutkan pada 689-695. Selama di Sriwijaya, I-Tsing menyalin naskah-naskah agama Buddha yang diperolehnya di India sembari membuat catatan perjalanannya sendiri. (Baca: Seratus Tahun Lalu, "Sriwijaya" Dikira Nama Raja) Pada tahun 689 ia sempat pulang ke Kanton walaupun tidak sengaja. Alkisah, ia naik ke kapal dengan maksud menitipkan surat ke Cina agar dikirimi kue-kue, kertas, dan tinta untuk melanjutkan penerjemahan. Namun, saat itu datangl...